Chapter 4
Café itu terlihat
penuh dengan orang-orang yang menikmati hidangan masing-masing. Café yang terletak di daerah Sibuya Tokyo itu
memang selalu ramai dengan pengunjung. Pasalnya Pemilik sekaligus barista café ini
adalah Hiroshi Sawada juara dunia Latte Art di Millrock Latte Art Championship
2008. Menurut majalah Shirokanedai Café, di Jepang sangat jarang seorang
barista berlaku sebagai enterpreuner dengan sendiri café-nya sekaligus
berkolaborasi dengan Armani untuk menjual brand merchandise-nya. Dia adalah
salah satu yang jarang itu. Ia membuka dua café di Tokyo, pusatnya di Shibuya
dan satu lagi di salah satu pusat mode Jepang, Harajuku.
Selain menjual kopi, mereka juga menjual makanan mengenyangkan lainnya seperti
spageti.
Natsumi sangat menyukai
suasana dan pelayanan di café ini. Ia sering kemari bersama dengan ayahnya dan
Marcus saat mereka sedang tidak sibuk. Ia mengalihkan pandangannya berkeliling.
Terlihat beberapa orang memesan kopi atau minuman panas lainya untuk
menghangatkan badan, kemudian ia menunduk lagi. Udara yang terasa semakin
dingin membuat beberapa pengunjung menggigil. Sweater tebal yang melingkar di tubuh masing-masing seolah tak
mempan menahan suhu yang mencapai di bawah nol derajat celsius. Penghangat di
ruangan itu tak berfungsi sama sekali.
“Penghangat
café ini sedang rusak tuan. Maaf.” Begitulah
kata salah seorang pelayan yang ditanya oleh beberapa pelanggan yang baru
datang.
“Jangan
hanya mengaduk spagetimu. Cepatlah makan. Rasanya tidak enak kalau sudah
dingin,” ucap Henry yang membuyarkan lamunan Natsumi.
Gadis
itu sontak mengangkat kepala menatap Henry yang sedang duduk di hadapannya. “Aku
tidak lapar,” sahutnya malas.
Natsumi
kembali memperhatikan makanan di hadapannya itu yang sudah berbentuk tak jelas.
Ia hanya mengaduk tanpa mencicipinya sedikitpun sejak setengah jam yang lalu. Pikirannya
sedang kalut saat ini. Ia sedang memikirkan pernikahannya yang akan berlangsung
sebentar lagi. Memikirkan keberangkatan ayahnya ke Thailand. Dan memikirkan
Marcus. Marcus? Untuk apa ia memikirkan pria itu? Bukankah Marcus hanya seorang
pengawal pribadi ayahnya? Pengawal yang dekat dengannya. Lalu apa maksud
pikirannya barusan? Oh, semua terasa begitu kacau di otaknya. Ditambah lagi
dengan memar di tangan dan kakinya, membuat kepalanya semakin sakit.
“Apa
ini semua ada hubungannya dengan rencana pernikahan kita?” tanya Henry
penasaran. Pria itu tidak suka jika melihat Natsumi yang diam saja.
“Maksudmu?”
tanya Natsumi balik, tak mengerti.
“Itu,”
Henry melayangkan sebelah tangannya yang tidak memegang garpu ke wajah Natsumi.
“Keriput di wajahmu terlihat semakin banyak. Sepertinya kau sedang banyak
masalah. Apa yang sedang kau pikirkan, eoh?”
Natsumi
langsung menegakkan tubuhnya. “Keriput? Benarkah wajahku…?” ucap Natsumi nanar
sambil memegangi wajahnya. Tangannya terasa sangat dingin saat kulit itu
bersentuhan. Natsumi agak menggigil. Uap dingin keluar dari mulutnya seiring
dengan hembusan napas.
“Kau
kedinginan?” tanya Henry sambil kembali menyuapkan spageti ke mulutnya.
“Sedikit,”
balas Natsumi acuh. Ia kemudian menyesap coklat panasnya yang tinggal separuh
itu hingga tak bersisa.
“Di
mana sarung tanganmu? Kenapa tidak kau pakai?” tanya Henry lagi saat melihat
Natsumi menggosok-gosokkan tangannya.
“Aku
tidak bawa,” jawab Natsumi. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke luar jendela
kaca yang mengabur tepat di sampingnya.
“Sweater-mu?”
“Aku
juga tidak bawa,” sahut Natsumi tanpa mengalihkan pandangannya.
“Bagaimana
bisa kau tidak membawa sarung tangan dan sweater-mu
dalam cuaca dingin seperti ini?!”
Natsumi
mengalihkan pandangannya pada Henry. Suara pria itu terdengar marah. “Apa kau
pikir aku peramal cuaca? Aku tidak tahu kalau malam ini akan turun salju! Kalau
tahu juga aku sudah membawanya!” gerutunya kesal.
“Gadis
bodoh! Apa kau tidak paham dengan arti kalimat ‘sedia payung sebelum hujan’,
eoh?” tanya Henry sambil mengangkat sebelah alisnya, menatap Natsumi yang
mendengus kesal. “Itu artinya kau harus mempersiapkan segala sesuatunya sebelum
terjadi hal yang tidak diinginkan seperti salju sekarang ini!” cercanya tanpa
ampun.
Oh,
ya ampun. Manusia satu ini benar-benar menyebalkan! pikir Natsumi.
Gadis
itu mencondongkan tubuhnya kedepan sambil melipat tangannya menopang tubuh
mengangkat dagu. “Hei! Henry Lau yang sok pintar. Kau tidak punya kaca ya?”
Kemudian sebelah tangannya meraih tangan pria itu. “Lihat dirimu sendiri. Apa
kau membawa sweater dan sarung
tangan, hah?! Kau bahkan hanya mengenakan jas hitam seperti biasa. Mudah sekali
bibirmu itu berbicara kasar padaku dan menyalahkanku? Kau pikir kau itu siapa,
huh? Sudah kukatakan padamu. Berpikirlah dulu sebelum bicara!”
Henry
sedikit kepayahan menelan ludahnya tapi kemudian ia berdehem. “Setidaknya jasku
masih jauh lebih hangat daripada bajumu.”
“Siapa
bilang?” sela Natsumi cepat.
“Kau
bisa merasakannya sendiri. Tanganku lebih hangat, bukan?” jelas Henry sambil
tersenyum kecil.
Natsumi
mengalihkan pandangan ke arah tangannya yang masih memegang tangan Henry. Astaga,
bodohnya ia. Ia segera menarik tangannya dan menyimpannya dalam saku cardigan miliknya.
Henry
terkekeh. “Kalau kau mau, aku bisa meminjamkannya sebentar. Kemarikan tanganmu,”
tawar Henry dengan nada menggoda.
“Tidak
perlu!” seru Natsumi sambil menghembuskan napas panjang. Ia kemudian melirik 4
buah tas belanjaan besar di sampingnya. Ia mengambil salah satu tas yang
berwarna putih dan mengeluarkan salah satu isinya.
Sebuah
kotak kecil berwarna biru dongker. Ia menaruh kotak itu di atas meja dan
membukanya. Terlihat sebuah cincin berlian dengan ukiran manis dan 3 buah
permata shapire blue di tengahnya. Sangat
cantik.
Ia
berhasil memilih cincin berlian untuk pernikahan mereka tadi siang di toko
perhiasan langganan keluarganya setelah adu mulut yang cukup panjang dengan
Henry. Natsumi sudah jatuh hati pada cincin ini sejak pertama kali melihatnya. Bentuknya
unik dan menarik. Mirip dengan cincin pernikahan mendiang ibunya.
Entah
kenapa ia jadi merindukan ibunya. Kalau saja ibunya ada di sini. Kalau saja
ibunya masih hidup. Kalau saja insiden penyerangan itu tidak pernah terjadi. Kalau
saja tak ada mafia yang menaruh dendam pada ayahnya. Kalau saja ayahnya bukan
seorang gangster. Mungkin sekarang ia masih bisa memeluk tubuh ibunya
erat-erat. Mungkin sekarang ia masih bisa mengadu tentang pernikahannya yang
mendadak. Mungkin sekarang ia masih bisa bercerita tentang dirinya yang akan
ditinggal sang ayah ke Thailand. Mungkin sekarang ia masih bisa bercerita
tentang Marcus. Dan masih bisa melakukan segala hal yang ia ingin lakukan bersama
ibunya yang sangat ia sayangi. Mungkin….
Tiba-tiba
saja dadanya teras sesak. Jantungnya berdegup cepat dan matanya menghangat. Pandangannya
mulai kabur. Dan air mata itu turun, tepat pada saat ia mengangkat wajah
menatap Henry yang tiba-tiba memegang keningnya.
“Kau
tidak apa-apa? Apa memar di tanganmu masih sakit? Kau demam?” tanya Henry
dengan raut wajah cemas.
Natsumi
sontak memundurkan tubuhnya. Menjauhkan diri dari jangkauan Henry. Ia menghapus
air mata dengan sebelah tangan dan memalingkan wajah. “Aku tidak apa-apa,”
jawabnya senormal mungkin. Ia tidak boleh menangis di saat seperti ini. Tidak
di depan pria ini.
“Tunggulah
di sini. Aku akan segera kembali.”
Setelah
mengatakan itu, Henry segera beranjak dari duduknya pergi entah kemana. Entahlah,
untuk saat ini ia tidak mau peduli dengan apa yang dilakukan pria itu. Ia tetap
menatap keluar jendela kaca besar di sampingnya. Matanya menerawang di antara
butiran salju yang terus melayang.
*****
“Kalau
kau mau, aku bisa meminjamkannya sebentar. Kemarikan tanganmu,” tawar Henry
dengan nada menggoda.
“Tidak
perlu!” seru Natsumi sambil menghembuskan napas panjang.
Henry
terkekeh melihat Natsumi cemberut. Ia sangat senang menggoda gadis itu.
Terlihat lucu dan menyenangkan menurutnya. Sejujurnya ia sangat menikmati
hari-harinya sebagai bodyguard selama
3 tahun terakhir. Gadis ini seperti candu yang membiusnya. Hiburan yang
menyenangkan disaat ia harus melihat wajah seseorang yang telah menghancurkan
hidupnya.
Ia
dan gadis itu memiliki kesamaan. Sama-sama campuran orang Amerika. Sama-sama
bermata biru. Dan sama-sama keras kepala. Mungkin kesamaan itu yang membuatnya
tertarik pada Natsumi. Gadis yang tanpa ia sadari telah membuatnya bertahan
dalam menjalani misi hidupnya sampai sejauh ini.
Tiba-tiba
ujung matanya menangkap dua orang pria ber jass biru seragam masuk ke dalam café tersebut. Kedua orang itu memakai
kaca mata hitam. Ia mulai memasang penjagaannya mengawasi orang-orang di
sekitarnya. Bisa jadi dua orang ini adalah utusan mafia lain yang hendak
mencari keributan. Jika benar, ia harus segera membawa Natsumi keluar dari
tempat ini.
Ia
mulai memperhatikan kedua pria bertubuh tegap itu. wajahnya cukup menyeramkan
dan kulitnya hitam. Alis mereka tebal. Yang satu berkepala botak sedangkan yang
satunya berambut panjang dikuncir kuda. Sekilas kedua orang asing tersebut
sempat melirik ke arah mejanya. Kedua pria itu memesan dua minuman hangat entah
apa, Henry tak begitu jelas melihatnya karena jarak mejanya yang jauh dengan
kasir. Ia menghembuskan napas lega ketika kedua pria itu berjalan keluar café. Tapi lagi-lagi ia curiga, ketika
salah satu dari dua orang tersebut sekali lagi melirik ke arah mejanya.
Henry
melihat ke kanan dan ke kiri tempatnya, lalu mencondongkan tubuh ke depan dan
melayangkan telapak tangannya ke kening Natsumi. Ia tahu gadis itu sejak tadi
melamun. Dan kini gadis itu sedang menangis. Ia bisa melihatnya, tadi siang di
toko perhiasan gadis itu dengan ngototnya memilih cincin berlian yang
dipegangnya saat ini.
“Kau tidak apa-apa? Apa
memar di tanganmu masih sakit? Kau demam?” tanya Henry dengan raut wajah cemas.
Natsumi
sontak memundurkan tubuhnya. Menjauh dari jangkauan Henry. Ia menghapus air
mata dengan sebelah tangan dan memalingkan wajah. “Aku tidak apa-apa,” jawabnya
senormal mungkin. Ia tidak boleh menangis di saat seperti ini. Tidak di depan
pria ini. Dan Henry tahu akan hal itu. Gadis ini sedang ingin sendirian.
Henry
sangat mengetahui latar belakang Natsumi, jadi ia bisa dengan mudah menebak
bahwa cincin itu pasti ada hubungannya dengan ibunya. Tapi untuk saat ini ia
harus segera mengejar kedua pria tadi. untuk memastikan kecurigaannya.
“Tunggulah
di sini. Aku akan segera kembali.”
Setelah
memastikan gadis itu baik-baik saja. Ia segera beranjak dari duduknya dan
berjalan keluar café. Dua orang itu
masih di sana. Berdiri di depan sebuah mobil Mercedes hitam berflat THL di
sebrang jalan. Henry menyipitkan matanya. Itu bukan kode flat mobil daerah
Tokyo. Sepertinya mereka memang mafia. Aneh, kenapa mereka memarkirkan mobil di
seberang café?
Henry
berpura-pura menyeberang jalan. Ia memperhatikan kedua orang mencurigakan itu
sambil mengendap-endap. Dan saat mobil hitam itu berjalan melewatinya, Henry
dengan segara masuk ke dalam toko pakaian di hadapannya. menutupi wajahnya
sedikit sambil memunggungi jalan. Ia menghela napas lega saat memastikan mobil
itu sudah pergi.
“Selamat
datang, tuan. Ada yang bisa saya bantu?”
Henry
terlonjak kaget mendengar suara di hadapannya. Ia membelalakkan matanya. Seorang
pramuniaga sedang menyapanya dengan senyum mengembang.
“Apakah
tuan ingin mencari hadiah untuk pacar tuan?”
“Apa?
Pacar…?” Ia menghentikan kata-katanya dan menatap berkeliling. Terlihat
berbagai macam pakaian wanita di tempat itu. Oh, astaga. Ternyata ia memasuki
sebuah toko baju khusus wanita.
“Atau
tuan ingin membelikan untuk istri tuan? Di saat salju begini, akan lebih romantis
kalau memberikan sesuatu yang hangat untuk pasangan,” lanjut pramuniaga itu
ramah.
Wajah
Henry sontak memerah. Ia lantas tersenyum garing dan menggaruk-garuk tengkuknya
yang tidak gatal.
****
“Pakai
ini!” seru Henry sambil menyerahkan sesuatu pada gadis yang duduk di
sampingnya.
Natsumi
yang baru saja selesai memasang sabuk pengaman sontak menoleh dan mendapati
sebuah hoody rajut berwarna merah di
sampingnya.
“Apa
ini?” tanya Natsumi heran.
“Apa?”
ucap Henry mengulang pertanyaan Natsumi.
Natsumi
mendecakkan lidah. Sebelum Henry memaki pertanyaannya, ia lebih dulu memotong.
“Jangan
katakan aku tidak punya mata. Jelas aku bisa melihat kalau ini adalah sebuah hoody.”
Ia
tahu benda yang di pegang Henry adalah sebuah hoody. Hoody rajut
berwarna merah yang sangat cantik. Ada ukiran emas berbentuk hati di setiap
sisi hoody itu.
“Kalau
sudah tahu, kenapa tanya?”
“Maksudku,
untuk apa kau membelikannya?”
“Apa
itu pertanyaan yang masuk akal? Tentu saja untuk dipakai! Memangnya apa lagi?!”
“Jadi
tadi kau keluar hanya untuk membelikan ini?” tanya Natsumi tak percaya. Kemudian
ia mengarahkan telunjuknya ke wajahnya sendiri. “Untukku? Kau yakin?” tanyanya
dengan tampang heran.
Henry menarik napas
panjang dan menghembuskannya secara perlahan. Ia mencondongkan tubuhnya
mendekati Natsumi dan memakaikan hoody
merah itu ke atas kepala Natsumi.
“Ya, aku membelikannya
untukmu. Kau puas?!” bentak Henry yang sukses membuat Natsumi melongo.
Sebenarnya Henry tidak
sengaja membelikannya. Ia hanya tidak tahu apa yang harus ia beli saat berada
dalam toko pakaian wanita tadi. Karena pramuniaga itu menanyainya macam-macam
dan tidak membiarkannya keluar dengan tangan kosong. Akhirnya ia membeli hoody merah itu setelah mengingat kalau gadis itu memang sedang
kedinginan. Dan ia juga sengaja memilih warna merah karena hanya warna itu yang
tergambar dalam ingatannya saat membayangkan Natsumi. Mencocokkannya dengan
cardigan gadis itu.
Natsumi segera
menggelengkan kepalanya menyadari Henry sudah melajukan mobil mereka. Tangan
kanannya terangkat mengambil sebuah cermin di salah satu laci mobil.
“Tapi kenapa kau
memilihkan warna merah? Ini kan bukan hari natal,” tanya Natsumi sambil
berkaca.
Henry memutar bola
matanya malas. Ia tidak begitu memperhatikan komentar panjang lebar apa lagi
yang gadis itu ucapkan, karena ia sedang berusaha memfokuskan pandangannya ke
jalanan di depannya yang semakin sepi dan melirik kaca spion mobil.
Mobil berflat THL tadi
sekarang berada di belakang mobil mereka. Tidak tepat di belakang. Berkelang
dua tiga mobil. Henry menginjak gas dengan cukup dalam. Membuat laju mobil itu
semakin kencang. Ia melewati lampu merah di depannya dan kembali melihat kaca
spion. Mobil itu masih di sana. Tetap berjarak dua mobil darinya.
Firasat Henry memang
tidak enak saat melihat dua orang pria ber jass tadi. ia sudah mencurigai kedua
orang itu sejak awal. Walaupun kemungkinan besar ia bisa menjatuhkan dua orang
itu dengan mudah. Tapi ia tidak bisa menjamin keselamatan gadis di sampingnya
ini. Melihat kondisi Natsumi yang sulit bergerak, kedua pria itu akan dengan
mudah melukainya. Apalagi kalau mereka membawa senjata api. Itu bisa akan
sangat berbahaya karena saat ini dirinya sama sekali tidak membawa senjata.
Henry mengurangi
kecepatannya saat berbelok di belokan pertama dekat rumah Robert. Ia
menghembuskan napas lega untuk kesekian kali saat melihat mobil hitam itu tidak
mengikuti mereka lagi. Dan bersamaan dengan itu Henry merasakan sesuatu jatuh
di bahunya.
Henry menoleh perlahan
dan mengerjapkan matanya beberapa kali ketika mengetahui Natsumi tertidur pulas
dengan menyandarkan kepalanya di bahu Henry.
****
Posting Komentar Blogger Facebook Disqus