Chapter 3
Henry
menyandarkan punggungnya ke sebuah kursi sandar empuk. Di hadapannya terpampang
layar raksasa yang terbentuk dari layar-layar kecil. Setiap layar memunculkan
gambar yang berbeda-beda dari bagian-bagian sebuah rumah. Ia memperhatikan satu
persatu gambar yang dimunculkan di layar itu. Bibir tipisnya tersenyum miring
saat ia menatap satu titik pada layar itu. Ia menautkan jemarinya di bawah dagu
dan menyipitkan mata. Ia mengambil telepon genggam miliknya yang tergeletak di
atas meja kecil di hadapannya dan menekan-nekan deretan nomor kemudian
menempelkannya ke telinga kanannya. Ia hampir tertawa keras saat mendengar
sahutan dari balik telepon yang terdengar lantam, namun segera ia tahan.
“Kau
kenapa?” ucap Henry senormal mungkin. Henry menjauhkan telepon genggam itu dari
telinganya. Menunggu gadis itu selesai berteriak mengomelinya. Setelah dirasa
cukup lama dan teriakan itu tak terdengar lagi, ia kembali mendekatkan ponsel
ke telinga dan langsung berbicara.
“Bersiap-siaplah.
Sebentar lagi aku akan menjemputmu. Jangan berusaha kabur atau menghindar. Kau
tahu itu akan sia-sia.” Henry menjauhkan ponsel-nya lagi karena gadis itu
kembali mengomel. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan.
“Terserah.
Aku tidak bertanya kau sedang apa. Lagipula aku tidak peduli. Aku akan
menjemputmu 15 menit lagi dan kau harus sudah siap. You got it?!” Henry langsung mematikan sambungan telepon itu secara
sepihak. Ia tertawa kecil sebelum akhirnya keluar dari ruangan serba hitam itu.
Sepertinya gadis itu berhasil membuatnya tertarik.
****
Natsumi
menggerutu kesal. Dengan susah payah ia berdiri dan berjalan menuju lemari
pakaian miliknya. Tiba-tiba ia merasakan nyeri yang luar biasa di pergelangan
kaki kanannya. Ternyata kakinya terkilir akibat menahan berat tubuhnya saat terjatuh
tadi.
Ditambah
lagi nyeri di tangan kirinya yang semakin terasa karena Natsumi sama sekali
belum sempat mengoleskan obat. Dan sekarang lihatlah, ia sudah membuka lemari
pakaian yang besar yang berisikan baju-baju mewah miliknya. Otaknya langsung berputar
memikirkan bagaimana caranya ia bisa bersiap-siap dalam waktu 15 menit dengan
kondisi seperti ini.
“Dasar
pria menyebalkan!” umpatnya sambil mengambil beberapa pakaian. Ia berdoa dalam
hati semoga terjadi sesuatu di jalan agar pria itu terlambat menjemputnya.
Dengan
sangat susah payah ia berhasil mengganti pakaiannya dengan tangtop putih tanpa lengan, dilapis dengan cardigan lengan panjang
bercorak kotak-kotak berwarna merah menyala. Ia melingkarkan syal merah muda
pada leher jenjangnnya dan menggunakan celana jeans panjang untuk menutupi
memar di pergelangan kaki kanannya.
Sekarang
ia hanya perlu mengoleskan make up tipis di wajahnya. Baru saja ia mengoleskan lips balm berwarna soft pink di bibirnya, sebuah suara menghentikan gerakannya. Ia
menoleh ke arah pintu kamar yang diketuk.
“Ini
bahkan belum 15 menit. Cepat sekali dia datang?” gerutunya setelah melirik jam
dinding berbentuk jangkar berwarna gold
di kamarnya.
Ia
berjalan pincang sambil meringis. Membuka pintu dan menengadahkan kepalanya menatap
wajah pria yang berdiri di depan pintu kamar.
“Marcus?”
ucapnya dengan kening berkerut. Marcus tersenyum menatap Natsumi.
“Ada
apa?”
“Boleh
aku masuk?”
Natsumi
mengangguk. Ia membuka pintu lebar dan berjalan mendahului Marcus. Marcus
menyusul di belakangnya setelah menutup pintu. Ia mengeryitkan kening menatap
cara jalan Natsumi yang pincang.
“Kakimu
kenapa?” tanya Marcus sambil duduk di pinggir ranjang gadis itu.
Natsumi
duduk di bangku kecil depan meja hiasnya yang berhadapan dengan ranjang
miliknya.
“Oh,
ini. Tadi aku…”
“Terjatuh
lagi?” sela Marcus cepat. Pria itu sudah bisa menebak betapa cerobohnya gadis
itu.
“Mhm..”
gumam Natsumi datar. “Tapi tidak apa-apa. Tidak terlalu sakit. Mungkin besok
sudah sembuh. Kau tak perlu cemas,” ucap Natsumi. Kemudian ia melanjutkan
setelah mengingat Marcus datang mencarinya. “Oh iya, ada apa mencariku?”
Marcus tidak menjawab
pertanyaan Natsumi. Natsumi mengerutkan kening saat menyadari Marcus sudah
berdiri dari tempat duduknya berjalan ke kamar mandi. Sedang apa dia? pikir
Natsumi.
“Natsumi, di mana kau
letakkan kotak obatnya?” Terdengar seruan Marcus dari dalam kamar mandi.
Natsumi langsung
teringat kalau ia sama sekali belum mengobati cideranya. Ia menaruh kotak obat
begitu saja di atas wastafel setelah mendapat telepon dari Henry.
“Ada di dekat wastafel,”
sahut Natsumi.
Marcus keluar dengan
kotak obat di tangannya. Ia menghampiri Natsumi dan berjongkok di hadapannya.
“Coba tunjukkan lukamu,”
ucap Marcus sambil membuka kotak obat itu.
“Aku tidak terluka. Hanya
memar. Mmmm.. tepatnya terkilir,” sahut Natsumi kaku.
“Kaki sebelah mana?”
“Kanan.”
Natsumi melihat Marcus
mulai meraih kaki kanannya dan menggulung sedikit jeans panjang gadis itu.
“Kau tidak perlu
melakukannya, Marcus. Aku bisa sendiri,” cegah Natsumi sambil menahan tangan
pria itu.
“Tolong jangan bergerak
dulu, Natsumi. Kakimu harus diobati.”
Entah kenapa ia merasa
sangat tidak enak pada Marcus. Padahal Marcus termasuk anak buah ayahnya. Dan
ia tidak pernah merasa begitu segan pada semua anak buah ayahnya, kecuali
Marcus. Mungkin karena ia juga menghormati pria ini dan percaya padanya. Sama
seperti ayahnya. Mungkin juga karena kedekatan mereka yang sudah lama terjalin.
Mungkin? Entahlah.
“Tuan Robert akan
berangkat ke Thailand dalam waktu dekat,” ucap Marcus yang membuyarkan lamunan
Natsumi. Ia segera melihat ke arah Marcus yang dengan telaten mengobati
kakinya.
“Apa sesuatu terjadi
lagi?” tanya Natsumi.
“Seseorang mencuri
pulau ayahmu. Kami harus segera membereskan semua kekacauan yang terjadi di
sana,” jawab Marcus.
“Kami?”
“Ya, aku dan ayahmu
serta beberapa pengawal yang lain.”
“Kukira kau tidak akan
ikut. Kalau kalian pergi siapa yang akan menjagaku?” sahut Natsumi dengan bibir
mengerucut.
“Aku harus ikut. Ayahmu
tidak akan bisa bergerak sendirian tanpa aku. Lagipula masih ada Henry di sini.
Dia pasti bisa menjagamu.” jelas Marcus sambil menatap wajah Natsumi sekilas.
Mendengar nama itu
disebut membuat Natsumi mendengus kesal. Ia sama sekali tidak mau menanggapi
segala sesuatu yang berhubungan dengan pria itu.
“Berapa lama kalian
akan pergi?” tanya Natsumi lagi.
“Mungkin beberapa hari
sampai masalah di sana selesai. Paling lama seminggu,” jawab Marcus setelah
berpikir sejenak. “Tenang saja Nona muda. Kami tidak akan lama-lama
meninggalkanmu,” lanjutnya sambil mengacak rambut Natsumi.
Ayahnya adalah ketua gangster
yang terkenal dengan kekayaan di mana-mana. Ia hanya perlu menjetikkan jari
jika menginginkan segala sesuatu. Karena itu kehidupan Natsumi sangat mewah
sebab ia sangat di manja oleh ayahnya. Ayahnya pun memiliki berbagai koneksi
dan rekan kerja di berbagai Negara. Tapi, karena ayahnya adalah seorang
gangster, tentu saja banyak rivalnya yang mengincar harta kekayaan dan
jabatannya. Bahkan banyak yang menaruh dendam mendalam pada ayahnya. Oleh
karena itu, Natsumi perlu di kawal oleh beberapa pengawal kemanapun ia pergi. Karena
bisa saja tanpa di duga ada orang mengincar nyawanya.
Itu juga yang membuat
Natsumi sulit memiliki teman. Ia tidak dibolehkan percaya dan dekat dengan
siapapun. Di tambah lagi statusnya yang sudah di ketahui cukup banyak orang
bahwa ia adalah putri tunggal seorang gangster, membuat temannya yang lain ikut
menjauhinya. Bukan karena tidak suka dengan Natsumi, tapi karena takut terkena
masalah dengan ayahnya. Apalagi melihat pengawal yang selalu mengelilinginya
dengan wajah ketat, membuat Natsumi semakin risih.
Sebenarnya ia mau
memprotes tindakan ayahnya yang keterlaluan itu, namun ia tidak punya kuasa
apapun atas hal itu. Sekalipun ia protes dengan sekuat tenaga, hal itu hanya
akan sia-sia saja. Robert adalah pria tegas yang sangat menomor satukan
keselamatan kelarganya. Jadi mau tidak mau ia harus menuruti semua kemauan ayahnya.
Marcus menengadahkan
wajahnya menatap Natsumi yang tersenyum kaku. Gadis itu terus saja meringis
selama kakinya diobati.
“Sekarang buka
cardiganmu,” perintah Marcus yang sukses membuat mata Natsumi membulat.
“Apa?”
“Buka cardiganmu,
Natsumi,” ulang Marcus. “Kau tidak ingin memar di tangan kirimu itu bertambah
biru, bukan?”
Sebelum Natsumi
menyuarakan pertanyaannya, Marcus sudah langsung menjelaskan.
“Tadi setelah mengawal
ayahmu ke ruangannya, aku menjumpai sensei
yang mengajarimu menggunakan pedang. Dia menceritakan semuanya padaku.”
Natsumi menggigit bibir
bawahnya. Celaka, pikirnya. “Lalu apa yang terjadi pada sensei sekarang? Maksudku, apa kau memberitahu Daddy?” tanyanya cemas.
Marcus menegakkan
tubuhnya berdiri. Ia lalu menggapai puncak kepala Natsumi, mengelusnya lembut. “Tenang
saja Nona muda. Aku tidak memberitahukannya pada ayahmu. Kau tidak perlu
mencemaskan sensei-mu itu.”
Natsumi menghela napas
lega. “Syukurlah,” gumamnya.
“Sekarang biarkan aku
mengobati memar di lengan kirimu,” pinta Marcus.
Baru saja Natsumi akan
membuka cardigan merah yang ia gunakan, sebuah suara mengagetkannya.
“Aku menyuruhmu
bersiap-siap, Natsumi. Bukan berpacaran dengan pria lain seperti ini di
kamarmu.”
Natsumi dan Marcus
serentak menoleh ke asal suara. Mereka melihat Henry yang sedang berdiri di
depan pintu kamar dengan tangan dilipat.
Natsumi mendengus. “Apa
katamu? Pacaran?! Hei! Henry Lau, kau tidak punya mata? Kami tidak pacaran.
Marcus hanya sedang mengobatiku!” protes Natsumi tak terima dengan apa yang
dituduhkan pria itu.
“Benarkah?” sahut Henry
dengan sebelah alis terangkat. Ia mengarahkan tatapannya pada Marcus yang
berdiri tepat di samping Natsumi, seolah meminta jawaban pada pria itu.
“Tentu saja benar! Harusnya
kau berpikir dulu sebelum bicara!” pekik gadis itu penuh emosi.
Henry mulai berjalan
mendekat. Keningnya berkerut. “Harusnya kau tidak perlu sampai semarah itu,
sayang,” ucap Henry dengan senyum manisnya menatap Natsumi.
Pernyataan Henry
barusan sukses membuat gadis itu terdiam sesaat. “Apa? Sayang?! Kau
benar-benar..!!” Natsumi sontak berdiri kemudian meringis. Nyeri di kakinya
hampir terlupakan olehnya. Rasanya ingin sekali menendang pria ini dari
kamarnya sekarang juga. Dan reaksinya barusan hampir membuatnya kehilangan
keseimbangan. Ia pasti sudah terjatuh lagi kalau saja kedua pria itu tidak
menahan tangannya. Tunggu dulu! Kedua pria itu? Marcus dan Henry? Oh, ini gila,
gumam Natsumi dalam hati.
Natsumi kembali duduk
di tempatnya. Tapi anehnya kedua orang itu masih saling bertatapan cukup lama. Natsumi
tahu benar kalau Marcus tidak menyukai Henry sejak pertama kali melihat pria
itu 3 tahun yang lalu. Marcus sudah pernah menceritakannya pada Natsumi.
Marcus juga sudah
mengatakan pendapatnya itu pada ayahnya. Tapi entah kenapa ayahnya tidak begitu
memperhatikan pendapat Marcus sebagai tangan kanan ayahnya lalu mempekerjakan
pria itu dan sekarang malah dengan tegas menikahkan pria itu pada putri tunggalnya.
Tak ada yang mengerti apa maksud ayahnya dibalik semua ini, dan Marcus juga
tidak bisa menentang begitu saja karena ia belum memiliki bukti apapun untuk
menjelaskan rasa tidak sukanya.
“Marcus, bisakah kau
meninggalkan aku dan calon istriku berdua saja di sini? Sepertinya kami tidak
butuh orang ketiga,” ucap Henry memecah keheningan barusan.
Marcus hanya menatap
Henry dengan wajah dingin. Ia tidak membalas perkataan Henry. Pria itu lantas
menatap ke arah Natsumi dan mengacak kepala gadis itu lagi.
“Lain kali
berhati-hatilah, Natsumi. Jangan lupa obati juga lukamu,” ucapnya. Kedua sudut bibir
Marcus tertarik ke atas, mengukir sebuah senyuman yang teramat menawan.
Natsumi mengangguk
mengerti. “Thank you, Marcus. Maaf
untuk kata-katanya tadi.”
Natsumi menatap
kepergian Marcus dari kamarnya dengan kening berkerut. Ada yang aneh pada pria
itu. Tapi apa ya? Entahlah. Natsumi tidak mau memikirkannya lebih lanjut. Karena
saat ini yang harus ia lakukan adalah mengumpulkan seluruh kesabarannya untuk
menghadapi pria menyebalkan yang sedang berdiri dengan senyum mengembang di
hadapannya ini.
****
Henry
mendudukan tubuhnya di tepi ranjang Natsumi. Ia mengambil kotak obat dan
mengaduk-aduk isinya lalu menyerahkan beberapa obat pada Natsumi.
Natsumi mau tidak mau
menerimanya dengan kening berkerut. Ia tidak mengerti apa yang dipikirkan pria
ini. Tapi Natsumi tak menanyakannya. Gadis itu sedang dalam kondisi yang buruk
jika harus berdebat dengan pria keras kepala seperti Henry.
“Pergilah ke kamar
mandi dan obati memar di lenganmu,” ucap Henry tiba-tiba.
“Apa?” tanya Natsumi
terkejut. Apa ia tidak salah dengar?
“Kau ingin aku yang
melakukannya?!” pekik Henry yang membuat Natsumi menutup mulutnya rapat.
“Baiklah, sepertinya
aku tidak salah dengar,” gumam Natsumi pelan. Ia berdiri perlahan dari duduknya
dan berjalan ke kamar mandi dengan langkah pincang.
Mendadak Henry merasa
menyesal sudah menyuruh gadis itu untuk segera bersiap-siap. Bagaimana cara dia
menyelesaikan semuanya dalam waktu 15 menit tadi? Ia bahkan ingin mengurungkan
niatnya mengajak gadis itu keluar. Tapi tidak bisa, pernikahan mereka sebentar lagi,
dan semuanya harus berjalan sesuai rencana. Tak ada yang boleh terlewatkan.
Natsumi keluar dari
kamar mandi 5 menit kemudian. Henry segera bangkit dari duduknya dan berjalan
keluar kamar. Natsumi mengikuti di belakang sambil menggerutu. Ia berbalik ke
ranjangnya mengingat ada yang tertinggal.
“Hei! Tunggu aku!”
teriak Natsumi. Gadis itu mengambil tas tangannya di atas meja kecil samping
tempat tidurnya dan berjalan menyusul Henry.
“Kita mau kemana?”
Henry menoleh, menatap
gadis yang sedang berjalan pincang di sampingnya. “Kau sudah makan?”
Natsumi menggeleng. “Belum,”
sahutnya spontan. Kemudian seolah baru menyadari sesuatu ia melanjutkan. “Jangan
katakan kalau kau memaksaku keluar dalam kondisi semacam ini hanya untuk makan
siang.”
Henry menghentikan
langkahnya dan memiringkan kepala menatap Natsumi. “Apa kau bodoh?” Pertanyaan
Henry sontak membuat Natsumi membulatkan matanya. “Ah…tapi sudah jelas kau
memang bodoh. Dan aku sudah tahu itu,” serunya sambil manggut-maggut. Natsumi
semakin tak mengerti dengan apa yang dikatakan Henry. “Hei! Apa kau pikir aku
mau repot-repot mengajakmu keluar hanya untuk makan siang? Ditambah lagi hanya
kita berdua. Kau pikir aku sedang mengajakmu kencan, eoh? Di mana otakmu? Apa
kau meninggalkannya di kamar?”
Natsumi memutar bola
matanya malas. “Bisakah kau hanya menjawab pertanyaanku tanpa embel-embel ‘bodoh’
dan sebagainya? Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu,” ucap Natsumi malas.
Henry menunduk,
mendekatkan wajahnya pada Natsumi. “Ti-dak,” sahutnya dengan penuh penekanan.
Oh, astaga. Pria macam
apa dia? Bagaimana mungkin ada manusia seperti ini? Sepertinya aku harus
membuat rencana untuk melarikan diri dari pernikahan bodoh itu sebelum
terlambat. Aku bisa gila kalau begini, gerutu Natsumi dalam hati.
Henry membalikkan
tubuhnya menatap tangga di bawah. Tanpa di sadari ternyata mereka sudah berada
di depan puncak tangga rumah itu. Henry membalikkan badannya lagi menatap
Natsumi kemudian duduk di anak tangga paling atas setelah berpikir sejenak.
Natsumi mengerutkan
kening melihat tingkah Henry. Ia hendak membuka mulutnya untuk bertanya tapi
tidak jadi. Ia yakin pasti pria ini akan memakinya lagi kalau ia bicara. Alhasil,
ia hanya diam dan menunggu Henry membuka suara.
“Naiklah,” ucap Henry
akhirnya.
“Apa?” tanya Natsumi
tak mengerti.
Hampir saja Henry
memaki gadis itu lagi seperti biasa kalau saja tidak ingat kondisi Natsumi. Henry
menghembuskan napas panjang. Lebih baik untuk saat ini ia mengontrol emosinya. Berhubung
gadis itu sedang dalam kondisi tidak baik.
“Kau tidak mungkin
turun dengan kakimu yang pincang, bukan?” jelas Henry setelah mengambil napas
dalam dan menghembuskannya perlahan.
Natsumi menatap
pergelangan kaki kananya kemudian melihat deretan tangga yang begitu panjang
lalu beralih ke punggung Henry.
“Cepat naik ke
punggungku!” pekik Henry tak sabar.
“Kau yakin? Aku berat
lho,” sahut Natsumi takut-takut.
“Kelihatannya memang
begitu.”
“Nah, kalau kau sudah
tahu kenapa malah menyuruhku naik?!”
“Sepertinya tadi aku
mendengar kau sedang tidak ingin berdebat denganku.”
“Memang.”
“Kalau begitu cepatlah
naik sebelum aku berubah pikiran!” seru Henry emosi.
“Tapi bagaimana kalau
nanti di tengah jalan kau kehilangan keseimbangan dan menjatuhkanku?” tanya
Natsumi cemas.
“Tidak akan,” jawab
Henry cepat. Sudah bosan dengan perdebatan tak berujung ini.
“Tapi kau tadi
mengatakan kalau aku ini berat,” protes Natsumi masih tak terima.
“Memangnya siapa yang
mengatakan kau itu ringan?!”
“Jadi kau berpikir
kalau aku ini berat? Berat badanku hanya 50 kg, dan tinggiku 160 cm. Itu sudah
ideal, bukan?” jelas Natsumi dengan mulut berbusa.
“Oh, ayolah. Apa aku
harus mengetahui semua itu.”
“Tentu saja. Kau kan
akan menggendongku di atas tangga itu.”
“Jadi kau mau naik atau
tidak!” pekik Henry akhirnya. Pria itu sontak berdiri di anak tangga paling
atas menghadap Natsumi.
Natsumi memundurkan
tubuhnya sedikit dan berdiri kaku. “Oke, aku akan naik,” jawab Natsumi sambil
mengangkat kedua tangannya ke udara. Memberi
tanda setuju mengakhiri perdebatan tak masuk akal tersebut. Dan pada akhirnya
mereka tidak berhasil untuk tidak berdebat.
****
Posting Komentar Blogger Facebook Disqus